Pages

Tampilkan postingan dengan label Comedy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Comedy. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 April 2013

Doomsday Book

Memaknai Akhir Jaman dan Tekhnologi


Directed by Kim Jee-Woon & Yim Sung-pil
Cast are Bae Doona, Bong Joon-ho, Ryu Seong-beom, Jin Ji-hee, Song Sae-byeok
Tagline: On the last day of the earth, shall I be saved?

Antologi selalu memunculkan variasi penilaian. Karena setiap antologi pasti akan ada naik – turunnya kualitas. Dalam hal ini, Doomsday Book, sebuah antologi film bergenre Sci-fi yang disutradarai oleh dua sineas Kim Jee-Woon (yang terkenal akan perpaduan genre dalam penggarapan filmnya) dan Yim Sung-Pil (terkenal lewat visualisasi cerita anak – anak Hansel & Gretel menjadi sebuah cerita yang sangat kelam).

Antologi ini memfokuskan terhadap fenomena – fenomena manusia dalam menghadapi sebuah era modern. Dengan maksud menjelaskan betapa kualitas manusia dalam mewacanai akan perubahan zaman yang cenderung menunjukkannya dalam kehancuran pada dirinya sendiri. Antologi ini dibagi menjadi tiga cerita yang memiliki varian tema dalam menghadapi akhir jaman. Karena semakin maju tekhnologi semakin maju pulalah akhir jaman hidup manusia.

Cerita Pertama : Brave New World
Yim Sung-pil memulai antologi film ini dengan cerita seorang ilmuwan pemerintah yang ditinggalkan oleh keluarganya untuk liburan ke luar negeri. Keluarganya meninggalkan pekerjaan rumah yang sebenarnya sangat malas untuk dia lakukan. Sampai akhirnya dia membersihkan panci berisi daging masak yang busuk dan ada sesuatu yang tumbuh disana. Apel. Dia membuang semua isinya tanpa memikirkan efek apa yang ditimbulkan dan itu menjerumuskan dalam fenomena zombie.

Dalam segmen ini, Yim Sung-pil memasukkan banyak unsur humor yang memang dengan lihai nya diperankan oleh Ryu Seung-boom (Dead Over My Body, Arahan) sebagai si ilmuwan. Tapi semakin kita tertawa semakin kita akan merasa kelam, apalagi sang sineas, terlihat sekali seorang vegan, memasukkan adegan – adegan yang memperlihatkan bagaimana makanan dari daging itu benar – benar berbahaya untuk dikonsumsi dan karena hal itu lah yang menjadi sumber dari virus zombie. Penyelesaian dalam film ini pun pas, tidak memaksakan apa yang biasanya kita tonton. Apa yang terjadi dalam fenomena zombie memang tidak bisa untuk ditanggulangi.

Cerita Kedua: The Heavenly Creature
Kim Jee-woon mengeksekusi satu – satunya dalam antologi ini yang mengkisahkan tentang android model RU-4 bernama In-myung dipercaya sebagai Buddha. Seorang tekhnisi dari RU dikirim ke kuil untuk memastikan adanya kerusakan pada In-myung karena In-Myung dikabarkan benar – benar berubah menjadi biksu dan memiliki kespritualan dan kefilosofian yang sangat tinggi.  Hingga akhirnya dari RU mengutus untuk penghancuran In-myung menimbulkan suatu pemahaman dalam ilmu kebudhaan.

Sebagai seorang sineas yang berhasil memadukan banyak genre dalam film – filmnya. Kim berhasil menciptakan sebuah cerita yang penuh filosofis dan humanis meski itu ada dalam pandangan sebuah android. Sayangnya, dengan durasi yang pendek, apa yang ingin disampaikan dalam segmen ini terasa sangat cepat hingga pencerahan yang dimaksud tidak tercapai dengan sempurna.

Cerita Ketiga: Happy Birthday
Antologi ini ditutup oleh Yim Sung-pil dengan fenomena kehancuran dunia karena jatuhnya meteor ke bumi. Dan hal ini dikarenakan seorang anak kecil, Min-seo, bermaksud mengganti bola bilyar no 8 milik pamannya yang hancur, dengan memesan dari situs aneh. Ternyata situs itu adalah situs alien. Sementara itu seorang pembaca berita berargurmen sebab, kehancuran dan dampak yang ditimbulkan oleh fenomena tersebut. Ketika akhirnya seorang peneliti menemukan penampakan meteor tersebut. Min-seo akhirnya menyakini bahwa itu adalah kesalahan dia.

Sekali lagi, Yim menyajikan segmen ini dalam bentuk humor,hanya saja dalam segmen ini Yim lebih memasukkan unsur satire. Terlihat dari adegan ketika di acara berita, sang pembaca berita justru terlibat dalam affair dan diperlihatkan pula kebodohan suatu media lewat iklan. Peran Min-seo kecil disegmen ini terlihat memuaskan, dengan beban keselamatan dunia ada di pundaknya, Jin Ji-hee berhasil menunjukkan penonton betapa cemas dia akan bagaimana nasib dunia nanti. Dan tentu saja Bae Doona sebagai Min-seo dewasa yang meski tidak signifkan perannya. Dia berhasil memberikan kesimpulan cerita dengan kehumorannya.

Doomsday Book memang tidak diharapkan untuk menjadi sebuah film terbaik. Film ini masih menunjukkan adanya banyak kekurangan. Meski begitu, apa yang ditampilkan film ini sudah cukup untuk menjelaskan seperti apa manusia dalam menghadapi kebodohannya dalam tekhnologi dan akhir jaman. Kolaborasi Kim dan Yim memang sedikit mengecewakan. Apalagi dalam hal ini, dari segmen pertama yang bisa membuat saya tercengang dengan fenomena zombie, segmen kedua merenung akan filosofi budha dari android dan segmen terakhir saya hanya tertawa. Tapi komposisi ketiganya tidak lah imbang. Dari kesemua itu, film ini masih bisa kita nikmati dengan tertawa dan merenung.

Overal : 7.5/10


TRIVIA
  • Bae Doona di film ini menjadi bintang dari segmen kedua Yim, dan Bong Joon-ho, bintang dia segmen pertama Yim. Kedua nya bertemu sebelumnya dalam film Bong yang berjudul “The Host”
  • Dua dari segmen film ini, terlihat seperti terinspirasi dari dua film Hollywood yang dibintangi oleh Will Smith, I, Robot dan I am Legend.

MEMORABLE QUOTES

To perceive is to distinguish, merely a classification of knowing. While all living creatures share the same inherent nature, perception is what classifies one as Buddha and another as machine. We mistake perception as permanent truth and such delusions cause us pain. Perception itself is void as is the process of perceiving. As I am a perception of this void, please see me for what I am. -  RU-4
 

Rabu, 21 Desember 2011

Pineapple Express

Efek Mengganja?

Directed by David Gordon Green.
Casts are Seth Rogen, James Franco, Danny McBride, Kevin Corrigan, Craig Robinson, Gary Cole, Rosie Perez, Amber Heard.
Tagline : "One hit could ruin your whole day"

Salah satu proyek dari Judd Apatow dan Seth Rogen yang bisa saya kategorikan sebagai film komedi aksi yang sakit dan teler. Dengan mengusung tema seorang pecandu marijuana, Seth Rogen yang berperan sebagai Dale Denton, seorang kurir surat pengadilan bagi yang tidak hadir dalam sidang, menghabiskan hari - harinya dengan menyimeng. Meski begitu, Dale beruntung mendapatkan gadis SMA bernama Angie yang jelas - jelas memiliki selisih umur yang jauh sekali.

Dale mempunyai pengedar tetap, Saul Silver (yang dimainkan sangat sempurna sekali oleh James Franco), seorang pengedar yang daya pikirnya melemah karena terlalu banyak nya mengkonsumsi ganja. Di suatu hari, Saul menawarkan sebuah ganja istimewa untuk Dale, ganja itu bernama Pineapple Express yang digadang - gadang sebagai ganja terbaik dari yang terbaik. Sampai akhirnya Dale mendapat tugas mengantarkan surat untuk Ted Jones, seorang pengusaha terkenal. Malang tak dapat disangkal, Dale menyaksikan kejadian pembunuhan yang dilakukan oleh Ted ketika menunggu di luar rumah Ted Jones, yang apesnya, Dale membuang Pineapple Express di TKP. sedangkan Pineapple Express hanya dijual dari Saul. Dan Ted pun tahu siapa saksi dari kejadian tragis tersebut.

Bisa dibilang, film ini seperti ensiklopedia dalam hal perganjaan. Dari nama - namanya hingga sejarah kenapa ganja dilarang di US lewat visualisasi hitam putih yang kocak. Tapi, apa yang membuat film ini sangat menarik dan kocak. Akting James Franco! Yap! James yang sebelum - sebelumnya nya berperan sebagai orang yang cool dan berwibawa merubah imaji nya menjadi pecandu ganja yang berlebihan hingga tingkah dia pun sangat teler.

Bahkan jika dilihat, Seth Rogen yang mendapat jatah sebagai aktor utama pun terlihat keteteran ketika harus beradu akting dengan James Franco di film ini. Dari cara dia berbicara, gesture dia hingga ekspresinya seakan - akan James benar - benar sedang teler. Bahkan di film ini, ada banyak sekali improvisasi dialog dan adegan dari James.

Selain apiknya performa dari James Franco, film yang menyandang rekor sebagai film bertemakan ganja tersukses dengan pendapatannya yang 100 juta dollar lebih, juga sukses meramu komedi slapstik dengan aksi yang brutal. Sebagai ciri khas Judd Apatow yang terkenal dengan komedi slapstiknya. Orang tidak ada yang menyangka bahwa film ini berubah menjadi film aksi yang brutal meski masih dalam keadaan teler. Juga dialog yang pintar yang mampu mengocok perut jika anda memang memahami lebih apa yang sedang mereka bicarakan.

Sayangnya, bagi penonton yang awam, konteks humor dari film ini akan terasa hambar dan akan membuat mereka berpikir "apa lucunya?" Kelemahan dari Judd Apatow dan Seth Rogen dari semua filmnya adalah mereka terlalu amerikanisasi dalam bercanda, meski film ini tidak hanya di Amerika untuk penyebarannya. Selain itu, karena kuatnya karakter James, Seth dan Danny pun berasa seperti penggembira yang kurang akan tendensi beraktingnya.

Dan juga film ini akan membuat mu tertawa terpingkal - pingkal dan di pertengahan film, dengan suksesnya juga kamu akan dijatuhkan tendensi menontonnya, hingga akan merasa bosan. Meski di akhir cerita diperlihatkan aksi yang menawan.

Keseluruhan dari film ini, selain suguhan performa yang menakjubkan dari James Franco, film ini memang akan membuat perut mu akan selalu terpingkal, meski kamu juga kudu antisipasi dengan anjloknya alur cerita di pertengahan film.

Overal Rating = 8/10

Trivia
  • Kata "f*ck" diucapkan hampir lebih dari 180 kali di film ini.
  • Awalnya Seth Rogen menulis peran Saul untuk dirinya sendiri, sampai akhirnya ia menyadari James Franco akan lebih lucu jika memerankan peran Saul.
  • Nama Budlofsky yang dikisahkan sebagai antagonis di film ini, di pakai kembali oleh Seth Rogen di naskah film dia berikutnya, Green Hornet.
Memorable Quotes:

Saul: Let's roll, man! I'm done with the woods! Let's go! C'mon, man, let's get the fuck outta here!
Dale Denton: [sarcastically] Okay... Uhh let's go... No... It's not working... the battery's dead.
Saul: Wait...! What do you mean, it's dead?
Dale Denton: [laughing] What do I mean? I mean the battery's dead. The battery's dead!
Saul: No, no! What do you mean, the battery's dead?
Dale Denton: How can I explain this to you differently? The battery is dead. It ceased to live. It's deceased now. The car needs a battery to start, Saul.
Saul: [frustrated sigh] How did this happen?
Dale Denton: Well we clearly fell asleep with the battery on and-...
Saul: Aw, man... Talk radio?
Dale Denton: Yes, talk radio.
Saul: So boring, man! The car just committed suicide.

Selasa, 11 Januari 2011

Cop Out

Kombinasi Yang Lumayan

Directed by Kevin Smith
Cast are Bruce Willis, Tracy Morgan, Juan Carlos Hernandez, Kevin Pollak, Adam Brody, Sean William Scott
Tagline : "Rock Out With Your Glock Out"


Sepertinya Bruce Willis memang masih mempunyai stamina untuk menjadi aktor laga meski terbilang usia nya yang sudah berkepala lima. Selain film ini, Bruce Willis pun membintangi film aksi laga lainnya, hanya saja saya tertarik dengan film ini dikarenakan faktor Tracy Morgan.

Selama ini Tracy Morgan lebih dikenal dari serial 30 Rocks, sebagai aktor yang keras kepala dan selalu membikin skandal. Dan sebenarnya terlihat sangat klop sekali dengan Bruce Willis yang memang selalu digambarkan sebagai karakter keras kepala.

Diceritakan Jimmy Monroe (Bruce Willis) dan Paul Hodges (Tracy Morgan) adalah pasangan detektif yang terkenal kecerobohannya. Suatu ketika, mereka berhasil mendapatkan informan Raul (Juan Carlos Hernandez) sebagai gembong narkotik meksiko. Ketika dilancarkan aksi menjebak Raul, terjadi insiden, hingga sang informan tewas.

Karena insiden itu, Jimmy dan Paul di skors dan disuruh menyerahkan lencana dan senjatanya. Padahal Jimmy membutuhkan pekerjaannya untuk membiayai pernikahan anaknya, Ava (Michelle Trachtenberg). Di lain tempat, Paul mencurigai istrinya, Debbie (Rashida Jones) berselingkuh dengan tetangga sebelah.

Jimmy akhirnya memutuskan untuk menjual kartu baseballnya yang katanya harganya 80 juta Dollar. ketika akan menjualnya, toko lelang itu dirampok oleh Dave (Sean William Scott).

Ternyata hilangnya kartu itu mengantar kan mereka ke Raul, yang memiliki hobi mengumpulkan pernak - pernik baseball. akhirnya Jimmy mengadakan negoisasi dengan Raul, agar dia bisa mendapatkan kembali kartu nya. Dari sinilah semua konflik terjadi.

Disini, Bruce bersama Tracy begitu klop. hanya saja disini Bruce tidaklah sekeras kepala seperti biasanya, disini dia lebih santai beda dengan Tracy yang begitu keras kepala (seperti biasanya) dan ceroboh.

Lucunya, ada banyak quote - quote dari film terkenal dan legenda disini, dan itu menjadi metode Tracy untuk menginterogasi dan praktik dia sebagai detektif. Ini lah poin kerennya dari Tracy.

Dari segi cerita, tidak ada yang spesial. Karena endingnya pasti sudah ketebak dari awal. Hanya saja dengan bumbu - bumbu ketidak sengajaan itu lah yang membuat film ini menjadi 'lumayan' menarik.

Meski kelucuannya rada di paksa, apalagi ketika ceritanya bergulir ke Kevin Pollak dan Adam Brody. juga ketidakharmonisan di endingnya yang bikin tidak enak untuk dilihat.

Overal Rating : 6/10


Minggu, 09 Januari 2011

Big Shot's Funeral a.k.a Da Wan

Menguak Pemakaman Yang Satir


Directed by Xiaogang Feng
Cast are Donald Sutherland, Rosamund Kwan, You Ge, Da Ying, Christopher Barden
Tagline : -

Kerjasama Columbia Pictures bersama China Film Group menyajikan sebuah cerita yang sangat lucu, menghibur dan mengejutkan. Meski lucu disini, bukan berarti film ini akan mengundang tawa terbahak - bahak, tapi film ini mampu menyajikan suguhan komedi satir.

Dimulai dari Tyler (Donald Sutherland), sutradara kondang dari Hollywood bermaksud untuk meremake film The Last Emperor, dari situ Lucy (Rosamund Kwan) meminta bantuan Yoyo (You Ge) untuk mendokumentasikan kegiatan Tyler. Meski awal - awal terlihat lancar - lancar saja dalam penggarapan film, Tyler merasa ada yang kurang hingga membuat dia malas - malasan untuk menyutradarainya.

Selama hal itu juga, Tyler menjadi akrab dengan Yoyo, walaupun sebenarnya Yoyo sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris.

Hal ini membuat Produsernya uring - uringan, karena film tersebut menyedot banyak dana. Akhirnya diputuskan untuk mengganti Tyler sebagai sutradara, dan diserahkan kepada sutradara yang naik daun dari MTV. Hal itu membuat Tyler cemas akan masa depannya, hingga akhirnya ketika tengah ngobrol dengan Yoyo, dia pingsan. Sebelumnya, Tyler meminta tolong untuk membuatkan pemakaman yang lucu untuk dia.

Melihat hal tersebut, Yoyo pun meminta bantuan kepada Louis Wang, temannya yang seorang EO terkenal di China untuk memberikan dana sekaligus konsep acaranya. Masalah belum selesai, ternyata pemakaman itu membutuhkan banyak dana. Akhirnya Yoyo dan Louis memutuskan untuk menggelar pelelangan pemasangan iklan ketika pemakaman Tyler.

Pelelangan itu mendadak menjadi kacau, karena banyaknya perusahaan yang ingin memasang brandnya. Kekacauan itu belum selesai, ketika tanpa Yoyo sadari, Tyler sudah sembuh dari sakitnya dan tidak didiagnosis akan mati.

Kekacauan itu lah yang menjadi kelucuan film ini. Dan tidak hanya itu pula, konsep pemakaman itu sebenarnya juga sanggup memberikan unsur lucu. Bayangkan saja pemakaman yang identik dengan kesedihan justru dikemas dengan konser musik yang megah, presentasi produk. Belum lagi ketika Tyler dan Yoyo tengah mengobrol, Tyler tidak tahu bahasa mandarin dan Yoyo tidak bisa bahasa Inggris. Tapi herannya mereka bisa nyambung.

Belum lagi pandangan Louis Wang terhadap orang asing, kelebaian dia membuat poin lucu tersendiri. Sekaligus menyentil kita dalam menyikapi orang asing.

Meskipun akhir cerita rada membingungkan dan mengejutkan.

Overal Rating : 7.5/10

Sabtu, 26 Juni 2010

Fast Track (The EX)


Standar Tapi Menghibur


Directed by Jesse Peretz
Cast are Zach Braff, Amanda Pett, Jason Bateman, Charles Grodin, Amy Adams
Tagline : "Credit-grabbing, Back-stabbing, wife-nabbing. Just another day at the office"


Sebenarnya saya menonton film ini karena tertarik dengan akting si Zach Braff, menilik performa dia di The Last Kiss yang terhitung sangat - sangat kurang dan mengecewakan. Ternyata di tahun yang sama, dia juga bermain di film yang sama ringannya berjudul Fast Track atau The EX.

Di film ini justru karakter khas dari Zach Braff muncul, tidak seperti di The Last Kiss yang bermain setengah - setengah, disini dia seperti tidak kaku untuk memerankan Tom Reilly, seorang pria yang jika bekerja tidak pernah bisa bertahan lama karena masalah prinsipnya, sedangkan istrinya hampir saja melahirkan.

Kolaborasi dia dengan Jason Bateman yang sebagai rival dia di film ini ternyata lumayan menghadirkan kelucuan yang (walau standar) menghibur. Jason Bateman sebagai Chip Sandlers, orang yang sudah lima tahun cacat kaki dan merupakan mantan istrinya ketika SMA.

Cerita dimulai ketika Tom dipecat lagi sebagai koki, sedangkan Sofia Kowalski (Amanda Peet) padahal sudah melahirkan. Mengetahui hal itu terjadi lagi, Tom akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran ayahnya Sofia, Bob Kowalski (Charles Grodin) sebagai asisten tim kreatif di perusahaan dia bekerja.

Masalah muncul ketika Tom menjadi asisten Chip yang ternyata anak emas Bob dan juga mantan Sofia kala SMA. Apalagi ternyata Chip berulang kali membuat Tom mendapat masalah. Dari dia membuat kericuhan ketika bermain basket bersama orang cacat, mengganti video rancangan iklan Tom dengan video dia menyadap apa yang dilakukan Chip selama ini dikantor. Hingga akhirnya karena Tom juga Bob harus di pecat dari kantornya. Hal itu tentu saja membuat Sofia marah besar dengan Tom. Melihat keadaan itu, Chip kembali melancarkan aksi pendekatan ke Sofia.

Keapesan Tom disini ditampilkan sangat apik oleh Zach, hingga saya berkata ini baru Zach yang sebenarnya. Akting Jason pun terhitung menghibur meski standar.

Meski begitu, sayangnya film ini kurang dalam penyelesaiannya. Lumayan memaksakan atau dikejar tayang, yang jelas endingnya terasa kurang enak untuk ditonton. Walau lumayan mengejutkan.

Film ini akan cocok untuk anda tonton jika ingin mencari mood saja. Karena memang film ini memang standar tapi menghibur.

Overal Rating : 6.5/10

Jumat, 15 Januari 2010

(500) Days of Summer

Saat nya melihat drama cinta dari perspektif lain


Sutradara : Marc Webber
Pemain : Joseph Gordon-Levitt, Zooey Deschannel
Tagline : This is not a love story. This is a story about love.

Hal yang menarik perhatian pertama kali ketika saya mengetahui akan film ini adalah Zooey Deschannel, ya saya adalah penggemar berat dia, semenjak dia bermain di film Yes man dan The New Guy. Pertama kali saya merasa film ini mungkin seperti film - film drama cinta biasanya. Sudah ketebak tokoh utama (baik itu cewek) akan mengencani orang yang dicintainya di ending film tersebut. Dan saya terbahak - bahak ketika mengetahui bahwa film ini tidak menganut hukum itu.

Hal yang menarik juga adalah Tagline filmnya, "This is not a love story. This is a story about love." lalu cerita apa yang mau dibawakan oleh Scott Neustadter dan Michael H. Webber selaku penulis naskah film ini. Itu juga yang membuat saya penasaran. Sang Sutradara pun ternyata dulunya adalah sutradara dari video klip band Green Day berjudul Waiting. Dan film ini adalah debut nya di film panjang setelah sebelumnya dia hanya membuat film pendek berjudul Seascape. Film ini adalah film Indie.

Untuk membahas cerita, film ini menyuguhkan alur yang unik, dari judul 500 hari, tapi tidak mengikuti harinya, melainkan melompat - lompat, film pun dimulai di hari 435, lalu tiba - tiba mundur ke hari 1, lalu maju lagi, dan seterusnya, hingga membuat saya agak kesal juga sama film ini, karena pas masih menikmati adegan kebahagiaan tiba - tiba di lompat dan disuguhi adegan sedih. Paling menarik adalah penempatan endingnya, yang tidak terduga dimana Tom Hansen menemui Autumn, lalu gambar yang biasanya di tampilkan musim panas berubah menjadi musim gugur.

Joseph Gordon-Levitt di film ini bagus sekali penampilannya, dia begitu menghayati perannya sebagai seorang pria yang tengah depresi karena ditinggal oleh si summer (Zooey Deschannel) dan juga emosi dia ketika summer tidak memberikan jawaban pasti mengenai status hubungan dia. Levitt pun juga bisa dengan pintarnya mengubah dari seorang depressi menjadi orang biasa yang sepertinya tidak pernah mengalami masalah berat. Bahkan aku pun larut dengan penampilan dia dan dalam hati memaki maki summer sebagai cewek yang tidak bertanggung jawab. Pantas jika dia di nominasikan sebagai Best Performance by an Actor in a Motion Picture - Musical or Comedy di Golden Globe Awards

Belum lagi jika menilik performa Zooey Deschannel sebagai cewek yang cuek, menyebalkan dan tak punya perasaan. Jujur, ketika dia bermain di film ini saya sampai benci dengan dia. Akting dia begitu natural dan tidak dibuat - buat. Seakan - akan memang sifat asli dia di kehidupan nyata ya seperti itu.

Dalam film ini jujur saya belum menemui kekurangan dari film ini, walaupun saya merasa ada hal yang kurang, cuma saya belum menemukan itu. Setidaknya film ini memang menyuguhkan hal yang menarik hingga membuat anda akan menikmati film ini sampai selesai dan akan terbahak - bahak ketika sampai ending.

Overal Rating : 8 /10

Trivia :
- Awalnya pihak studio menolak dengan adanya dokumentari tentang cinta, tapi setelah di putar untuk pertama kalinya, penonton menyukainya dan pihak studio menarik tuntutannya

Memorable Quotation :
"Look, I know you think she was the one, but I don't. Now, I think you're just remembering the good stuff. Next time you look back, I, uh, I really think you should look again." - Rachel Hansen

Kamis, 14 Januari 2010

Inglorious Basterds (2009)

Nuansa Film Nazi baru ala Tarantino




Sutradara : Quentin Tarantino
Pemain : Brad Pitt, Ellie Roth, Christoph Waltz, Melanie Laurent, Dianne Kruger, Martin Wuttke, Mike Myers
Tagline : Once upon a time in Nazi occupied France....


Sebetulnya ketika sebelum menonton film ini, aku menaruh harapan yang sangat besar karena memang saya penggemar berat film - film garapan Quentin Tarantino, dari Reservoir Dogs, Pulp Fiction, Jackie Brown, Four Room, Kill Bill 1 & 2, Death Proof, hampir tidak ada yang mengecewakan, dan saya sempat kaget ketika tahu Quentin mengeluarkan mainan baru dia yang bernama Inglorious Basterds. Jika menilik dari film - film sebelumnya, Quentin belum pernah yang namanya menyentuh genre ini, genre perang. Biasanya film garapan Quentin lebih condong ke dunia gangster dan psikopat yang sangat gila dan lebih cenderung menganut paham film silat jaman dulu.

Lalu apakah film ini mengecewakan kah? baguskah? Jawaban saya satu, luar biasa! Bahkan tidak menyangka seorang Quentin pun bisa membuat film perang yang sama sekali tidak menggunakan formula yang biasa dia pakai di film sebelumnya. Bahkan film ini pun benar - benar bukan seperti film perang biasanya. Jangan berharap akan adanya baku tembak ala Saving Private Ryan, Band of Brothers dan film perang lainnya.

Film ini lebih menitik beratkan ke dialog yang cerdas walau masih ada kekerasan dan darah seperti di film nya Quentin sebelumnya. Dan hebatnya di film ini anda benar - benar akan merasakan suasana jerman sekali, para prajurit jerman memang benar - benar orang jerman yang berbahasa jerman (beda dengan film hollywood lainnya, dengan setting di eropa masih menggunakan bahasa amerika ^_^) itu salah satu nilai plus dari film ini, kedua, pemilihan aktor nya juga pas, siapapun akan mendukung statemen saya bahwa Christoph Waltz memang pas sekali menjadi Col. Hans Landa seorang kolonel jahat dan dingin. Lalu juga Martin Wuttke secara tak terduga cocok sekali menjadi orang terkejam bernama Adolf Hittler, belum lagi Brad Pitt yang menjadi Lt. Aldo Raine, pemimpin pasukan basterds, aksen amerika yang bercampur dengan aksen jerman juga ketika dia menjadi orang itali.

Berbicara secara Dialog, memang diakui film ini sarat dengan dialog yang renyah dan membuat anda tidak jenuh mengikuti alur film ini, seperti ketika adegan ketika Sgt Stiglitz bersama Lt. Archie Hicox menyelusup di basement yang menjadi tempat bar dimana di tempat itu 4 pasukan jerman tengah berpesta. sampai akhirnya Sgt Stiglitz bertemu Bridgette Von Hammersmark, seorang aktris yang menyamar, ketika mereka sedang membicarakan hasil intaian Hammersmark terjadi kekacauan hingga seorang kapten nazi menyeruak dan di sinilah adegan dialog cerdas itu terjadi, bahkan akan sangat terasa atmosfir yang terjadi saat itu. Inilah kehebatan sang Quentin Tarantino.

Penggunaan angle kameranya juga pas, penggunaan angle ini hampir sama ketika Quentin menggarap film Pulp Fiction, banyak sekali kemiripannya, dan itulah yang menjadikan cinematografi film ini juga bagus.

Mary Ramoz sebagai music supervisor juga dipuji buat saya, karena dia berhasil memadukan antara bahasa visual dan bahasa musik, dalam hal ini score musiknya pas sekali dengan atmosfir yang di tampilkan di film.

tak ada gading yang tak retak, film ini pun juga memiliki kelemahan, dimana kelemahan itu adalah ending yang terasa sangat absurd dan datar, entah karena Quentin sudah bingung bagaimana menyelesaikan film nya, atau memang sengaja menjatuhkan ekspetasi penontonnya, karena ketika hampir mendekati ending, semua terasa sangat absurd dan jatuh sekali, kharisma Landa sebagai kolonel jahat tiba - tiba berubah seperti orang bloon yang pikirannya rendah sekali. Dan juga seorang Hittler kenapa bisa dengan mudahnya mati. Padahal namanya orang penting seharusnya jika sedang pergi - pergi penjagaan gedung itu pastilah sangat ketat. sedangkan Gedung bioskop tempat Hittler menonton tidak ada penjagaan.

Ya setidaknya, bagi anda penggemar film Quentin Tarantino, disarankan untuk menonton film ini, karena memang film ini akan memuaskan dahaga para penggemar Quentin, sedangkan bagi pecinta film perang jangan terlalu berharap ketika menonton film ini.

Overal Rating : 8.5

Trivia :
- Quentin Tarantino sudah menyiapkan film ini dari tahun 1994 atau setelah pembuatan Pulp Fiction

Memorable Quotation :
"My name is Shosanna Dreyfus and THIS is the face... of Jewish vengeance!" - Shosanna Dreyfus